Palu, Sulawesi Tengah // Swara Jiwa //
Program Kampung Reforma Agraria yang dijalankan di Desa Duyu, Kota Palu, terus menunjukkan dampak signifikan dalam mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pasca gempa 2018, kehidupan sosial dan ekonomi warga sempat terhenti. Namun, melalui redistribusi aset dan pemberdayaan berbasis agraria, kondisi masyarakat berangsur bangkit.
Salah satu keberhasilan yang terlihat nyata adalah berkembangnya Kebun Anggur Duyu Bangkit, yang kini bukan hanya menjadi sumber pendapatan bagi petani, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar. Kelompok usaha Doyou Grape, yang dipimpin oleh Vicky (30), telah membina sekitar 20 anggota, mayoritas ibu rumah tangga, dalam mengolah produk turunan tanaman anggur.
Produk yang dihasilkan meliputi keripik daun anggur, mie daun anggur, selai anggur, hingga sirup anggur, yang kini menjadi identitas ekonomi baru bagi Desa Duyu. Model ini menjadi contoh penerapan agribisnis terintegrasi yang memberikan nilai tambah (value added) melalui diversifikasi produk berbahan baku lokal.
Program Kampung Reforma Agraria di Desa Duyu berhasil menciptakan ekosistem usaha agraria dan industri rumahan berbasis anggur, yang menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Pemerintah melalui Kementerian ATR/BPN, masyarakat Desa Duyu, Kelompok Usaha Doyou Grape, serta para petani dan ibu-ibu pelaku UMKM di wilayah tersebut.
Di Kelurahan Duyu, Kota Palu, Sulawesi Tengah — kawasan yang ditetapkan sebagai bagian dari Kampung Reforma Agraria.
Program bergulir sejak pasca gempa 2018 dan terus berkembang hingga saat ini, dengan kelompok usaha terbentuk pada tahun 2021.
Untuk memulihkan ekonomi warga pasca bencana, memberikan kepastian hukum atas tanah melalui sertifikasi, serta mengoptimalkan produktivitas lahan melalui pendekatan pertanian terpadu.
Melalui:
redistribusi tanah dan legalisasi aset pertanahan,
pendampingan teknis dan pelatihan oleh ATR/BPN serta instansi pendukung,
pengembangan kebun anggur sebagai sentra agribisnis dan agrowisata,
penerapan closed-loop system yang menghubungkan produksi, pengolahan, dan pemasaran,
pemberdayaan masyarakat terutama kelompok perempuan untuk meningkatkan perekonomian rumah tangga.
Dampak Ilmiah dan sosial
Pemberdayaan ekonomi berbasis agraria: mengubah lahan pasca-bencana menjadi pusat produksi berkelanjutan.
Peningkatan ketahanan ekonomi keluarga melalui usaha olahan pangan.
Pemberdayaan perempuan melalui industrialisasi rumahan (home-based industry).
Optimalisasi fungsi sosial tanah, sejalan dengan prinsip Reforma Agraria nasional.
Diversifikasi ekonomi desa melalui pengembangan agrowisata anggur.
Kampung Reforma Agraria Desa Duyu kini menjadi model pemulihan ekonomi berbasis masyarakat yang memadukan aspek agraria, pemberdayaan sosial, dan inovasi produk pangan lokal. Kementerian ATR/BPN terus mendorong agar praktik baik ini diperluas ke wilayah lain untuk mempercepat pemerataan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat.(clara.s)
0 komentar:
Posting Komentar