728x90 AdSpace

­Top Banner Advertisement
  • Latest News

    8.9.26

    Menteri Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir: Kritik dan Perbedaan Pemikiran Harus Tetap Hidup di Kampus

     

    SLEMAN/// Swara jiwa///Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang terbuka bagi pertukaran gagasan, termasuk pemikiran kritis terhadap negara maupun kebijakan pemerintah.

    Hal tersebut disampaikan Menteri Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

    Kuliah umum tersebut menghadirkan akademisi sekaligus filsuf Rocky Gerung sebagai salah satu narasumber dan diikuti lebih dari 500 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN.

    “Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara, termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Menteri Nusron.

    Menurutnya, keberagaman perspektif bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan dapat menjadi sumber pengetahuan apabila setiap pihak diberikan ruang untuk menyampaikan, mempertanyakan, dan mempertukarkan gagasannya secara terbuka.

    Untuk menggambarkan pentingnya pertukaran gagasan, Menteri Nusron menggunakan analogi “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.

    “Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelasnya.

    Namun, menurut Menteri Nusron, pertukaran pemikiran menghasilkan sesuatu yang berbeda. Ketika dua orang memiliki pemikiran yang berbeda kemudian saling bertukar gagasan, keduanya justru memperoleh perspektif baru.

    “Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tuturnya.

    Karena itu, Menteri Nusron berharap tradisi kuliah umum dan ruang dialektika di Politeknik Agraria STPN terus dikembangkan. Menurutnya, proses berbagi pendapat akan memperkaya wawasan sekaligus membentuk cara berpikir yang lebih terbuka bagi para taruna dan taruni.

    “Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” katanya.

    Rocky Gerung: Pikiran Harus Berani Dibantah

    Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung menekankan bahwa proses akademik tidak seharusnya berhenti pada penyampaian gagasan. Sebuah pemikiran justru perlu diuji melalui perdebatan, kritik, dan argumentasi agar dapat berkembang.

    “Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky.

    Di hadapan para taruna dan taruni, Rocky juga menjelaskan pendekatan filosofis yang digunakannya untuk mengajak peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran, termasuk dalam memahami persoalan pertanahan.

    “Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” ungkapnya.

    Pemikiran tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai tanah, negara, dan rakyat yang dibahas dalam kuliah umum. Rocky mengajak para taruna dan taruni untuk tidak hanya memahami persoalan pertanahan dari aspek teknis dan regulasi, tetapi juga melihatnya dari perspektif sosial, filosofis, historis, dan ekonomi.

    Ia menjelaskan bahwa tanah memiliki pemaknaan yang berbeda bagi berbagai pihak. Bagi masyarakat adat, tanah dapat memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur. Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan bisnis.

    Perbedaan pemaknaan tersebut, menurut Rocky, menjadi salah satu hal penting dalam memahami konflik agraria. Persoalan agraria tidak selalu sekadar menyangkut perebutan suatu bidang tanah, tetapi juga menyangkut perbedaan mengenai hak, fungsi, nilai, serta tujuan penguasaan dan pemanfaatan tanah.

    Kuliah umum tersebut turut dihadiri sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN.

    Melalui kegiatan tersebut, Politeknik Agraria STPN diharapkan terus menjadi ruang akademik yang terbuka terhadap berbagai perspektif. Tradisi dialog, kritik, dan pertukaran gagasan dinilai penting untuk membentuk calon insan pertanahan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu berpikir kritis, terbuka, dan memahami kompleksitas persoalan agraria di tengah masyarakat.(clara)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Menteri Nusron Tekankan Tradisi Dialektika Berpikir: Kritik dan Perbedaan Pemikiran Harus Tetap Hidup di Kampus Rating: 5 Reviewed By: HarianSwaraJiwa.Com
    Scroll to Top