Jakarta // Swara Jiwa /// Tingginya angka impor kedelai menjadi sorotan serius di tengah masyarakat Indonesia yang menjadikan tahu dan tempe sebagai makanan pokok sehari-hari. Kondisi ini diungkapkan oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, yang akrab disapa Titiek Soeharto.
Titiek Soeharto menyampaikan keprihatinannya saat menghadiri acara Panen Raya Kedelai Ketahanan Pangan TNI AL Tahun 2026 di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Kamis (14/5/2026). Acara tersebut mengusung tema “Menuju Swasembada Nasional”
“Kita ini, bangsa Indonesia, bangsa yang makan tahu-tempe setiap hari. Tapi kedelainya harus impor,”
ucap Titiek kepada awak media usai kegiatan tersebut.
Lebih lanjut, Titiek Soeharto memaparkan bahwa kebutuhan kedelai nasional per tahun mencapai 2,6 juta ton. Namun, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 270.000 ton. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas kebutuhan kedelai Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
“Jadi, banyak sekali 90 persen (kebutuhan kedelai) masih impor,” tegasnya.
Situasi ini, menurut Titiek, memerlukan perhatian serius dari pemerintah beserta seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya adalah untuk mempercepat pencapaian swasembada kedelai nasional.
“Ini harus kita tangani, kerja keras kita bersama, supaya dalam waktu secepat-cepatnya kita bisa swasembada kedelai,” harapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Titiek Soeharto juga memberikan apresiasi terhadap peran aktif Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Laut, dalam mendampingi para petani kedelai di Nganjuk. Ia menilai bahwa produktivitas kedelai di wilayah tersebut menunjukkan hasil yang sangat baik, bahkan jauh melampaui rata-rata nasional.
“Di Nganjuk sudah bisa panen di tanah 2.000 hektare dengan hasil bagus. Biasanya di nasional produksi 0,7 ton per hektar. Ini di sini bisa di atas 2 ton per hektar,” bebernya, membandingkan produktivitas lokal dengan angka rata-rata nasional.
Titiek Soeharto menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antara pemerintah, TNI, akademisi, petani, dan masyarakat. Sinergi ini diharapkan dapat mendorong percepatan pencapaian swasembada pangan nasional, khususnya komoditas kedelai.
“Mudah-mudahan kerja sama ini bisa diteruskan, tidak hanya dengan antara kementerian, TNI, akademisi, para petani dan masyarakat, tapi juga bisa dengan lembaga-lembaga atau yang lainnya yang bisa ikut serta,” tutupnya.
Acara Panen Raya Kedelai di Desa Ngudikan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.( Jun )
0 komentar:
Posting Komentar