Jakarta//Harianswarajiwa//Kementrian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menargetkan gerakan tanam padi serempak seluas 3.000 hektare di seluruh Indonesia untuk mempercepat realisasi luas tambah tanam (LTT) pada musim hujan 2026.
Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti mengatakan kegiatan tersebut dipusatkan di Kuningan dan dilaksanakan secara serentak di 14 provinsi. “Tanam serempak hari ini dari seluruh Indonesia berpusat dari Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat dan kemudian kita juga melaksanakan kegiatan ini serentak di 14 provinsi,” kata Idha, Sabtu (7/10/2026).
Idha menyebutkan target LTT nasional saat ini sekitar dua juta hektare, sedangkan realisasinya masih kurang dari 10 persen, sehingga percepatan penanaman perlu dilakukan seiring datangnya musim hujan. Menurut dia, ketersediaan air pada awal musim hujan menjadi peluang untuk mempercepat penanaman dengan melibatkan petani, penyuluh, serta seluruh pihak yang bekerja di lapangan.
BPPSDMP, kata dia, memilih Kabupaten Kuningan sebagai lokasi kegiatan karena daerah tersebut memiliki lahan optimalisasi lahan (opla), cetak sawah, serta kelembagaan Brigadir Pangan yang telah dibentuk untuk mendukung percepatan tanam.
Idha mengatakan lahan yang telah disiapkan untuk kegiatan tanam di Kabupaten Kuningan mencapai 20 hektare, sementara target gerakan tanam pada hari pelaksanaan sebanyak 3.000 hektare secara nasional.
Ia menjelaskan percepatan tanam diarahkan untuk mengoptimalkan lahan cetak sawah rakyat, yang sebagian konstruksinya telah selesai melalui operasionalisasi Brigadir Pangan.
Pelaksanaan kegiatan tersebut, lanjut dia, perlu menyesuaikan karakteristik wilayah karena kondisi lahan di setiap daerah berbeda, terutama dari sisi bentang alam dan agroekosistem.
Penyesuaian terkait dengan alsintan yang digunakan ini juga akan dilakukan tentu saja dengan melihat kondisi agroekosistem yang ada,” katanya.
Ia mencontohkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pada lahan datar dan hamparan luas lebih mudah, dibandingkan wilayah berbukit atau memiliki kemiringan seperti sebagian kawasan Kuningan.
Selain mempercepat penanaman, kata dia, gerakan tersebut diharapkan dapat mengatur distribusi waktu panen agar produksi padi tersedia lebih merata sepanjang tahun.
Idha menjelaskan pola tanam yang berlangsung menghasilkan panen secara berkala sekitar tiga bulan kemudian, sehingga tidak terjadi penumpukan produksi pada periode tertentu.
“Kami menghindari kondisi-kondisi di mana terjadinya panen puncak yang kemudian akan membuat harga turun atau kemudian juga saat paceklik yang akan membuat harga naik,” ujarnya.
Sebelumnya, BPPSDMP telah mengantisipasi potensi kekeringan dengan mempelajari informasi BMKG serta berkoordinasi dengan pemangku kepentingan. “Data-data yang disampaikan oleh BMKG misalnya kita pelajari, kita sudah lakukan antisipasi,” ucap dia.
Gerakan Tanam Padi Serempak menjadi salah satu strategi Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mempercepat peningkatan luas tambah tanam (LTT), meningkatkan indeks pertanaman (IP), dan menjaga kesinambungan produksi beras nasional.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim, terutama El Niño yang berpotensi mengganggu ketersediaan air dan produktivitas sawah. Namun, untuk mengukur keberhasilannya, perlu dibedakan antara luas lahan yang menjadi sasaran gerakan tanam dengan realisasi penanaman yang benar-benar terjadi.
Pada 12 Juni 2026, Kementan menggelar Gerakan Tanam Padi Serempak di 25 provinsi yang dipusatkan di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan tersebut menargetkan lahan seluas 52.510 hektare.
Sasaran itu terdiri atas 25.200 hektare lahan Optimalisasi Lahan (Oplah) 2024, sebanyak 25.170 hektare Oplah 2025, dan 2.140 hektare dari program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025. Gerakan ini diarahkan untuk mengoptimalkan lahan pertanian yang telah dibangun atau direhabilitasi agar segera memberikan kontribusi terhadap produksi pangan nasional.
Sebelum gerakan tersebut dilaksanakan, Kementan juga melaporkan perkembangan realisasi penanaman dari program optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat. Hingga 10 Juni 2026, realisasi tanam pada Oplah 2024 mencapai 450.749 hektare dengan indeks pertanaman 1,29.
Sementara itu, Oplah 2025 mencatat realisasi 574.142 hektare dengan indeks pertanaman 1,31. Adapun program Cetak Sawah Rakyat 2025 telah mencatat realisasi tanam 58.028 hektare atau sekitar 95,44 persen dari targetnya. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya mengejar pembukaan atau optimalisasi lahan, tetapi juga mendorong lahan yang sudah tersedia agar segera ditanami.
Memasuki September 2026, Kementan kembali menggelar Gerakan Tanam Padi Serempak pada 18 September di Kabupaten Siak, Riau. Kegiatan yang dilaksanakan di 22 provinsi tersebut menargetkan luas tanam sekitar 50.000 hektare.
Gerakan ini menjadi pelaksanaan ke-14 sekaligus kegiatan terakhir dalam rangkaian percepatan tanam periode April–September 2026. Sasaran penanaman kembali diarahkan pada lahan optimalisasi dan cetak sawah rakyat yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi pertanian di berbagai daerah.
Pada 7 November 2026, pemerintah kembali mengintensifkan gerakan serupa yang dipusatkan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kali ini, target penanaman mencapai 3.000 hektare yang tersebar di 14 provinsi. Khusus di Kabupaten Kuningan, lahan yang disiapkan untuk kegiatan tersebut mencapai 20 hektare.
Salah satu faktor yang membuat percepatan tanam semakin mendesak adalah ancaman El Niño. Laporan Kementan yang disampaikan pada akhir Oktober 2026 menyebut indeks Nino 3.4 periode Agustus–Oktober mencapai positif 3,05 derajat Celsius.
BMKG juga mencatat 1.707 titik pengamatan mengalami hari tanpa hujan dengan kategori ekstrem panjang. Selain itu, prakiraan musim hujan 2026/2027 menunjukkan awal musim hujan di 529 zona musim atau sekitar 61,08 persen dari wilayah yang diprakirakan mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal. Situasi tersebut berpotensi mempersempit kesempatan petani untuk melakukan penanaman apabila ketersediaan air tidak dikelola dengan baik.(Jun)

0 komentar:
Posting Komentar