Jakarta /// Swara Jiwa /// TNI AL tengah serius mengkaji langkah strategis untuk memodernisasi Satuan Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba). Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan utama adalah rencana penyatuan unsur penyelam dengan kapal pendukung dalam satu komando terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi operasi di lapangan.
Langkah ini diambil menyusul kunjungan delegasi TNI AL ke Pangkalan Angkatan Laut Jinhae, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Kehadiran tim yang dipimpin oleh Kepala Dinas Operasi dan Latihan Angkatan Laut (Kadisopslatal) Laksma Hariyo Poernomo ini bertujuan mengobservasi latihan multinasional Salvage Exercise (Salvex) 2026 sekaligus memperkuat kerja sama internasional.
Kunjungan tersebut bukan sekadar seremoni diplomasi maritim. Delegasi secara khusus melakukan studi mendalam terhadap struktur organisasi Sea Salvage Rescue Squadron (SSRS) milik Angkatan Laut Korea Selatan. Unit ini dinilai sangat efektif karena mengintegrasikan para penyelam dan kapal pendukung (unsur atas air) langsung di bawah kendali Naval Special Warfare Flotilla.
Hariyo, menjelaskan model integrasi komando milik Korea Selatan tersebut memberikan sudut pandang baru bagi pengembangan Koppeba. Menurutnya, kesatuan komando tersebut memangkas jalur birokrasi dan mempercepat koordinasi saat terjadi situasi darurat di bawah laut.
“Model organisasi, kemampuan teknis, serta peralatan modern yang dimiliki SSRS merupakan referensi berharga bagi kita. Hal ini akan menjadi bahan analisa penting untuk meningkatkan keterampilan dan profesionalisme prajurit Koppeba TNI AL ke depan,” ujar Hariyo, dikutip dari keterangan Dispenal di Jakarta, Senin (13/4).
Selama di Korea Selatan, delegasi TNI AL memantau langsung bagaimana unit elite dunia bekerja, termasuk penggunaan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) atau kendaraan bawah air kendali jarak jauh. Penyatuan aset teknologi dan personel dalam satu atap komando terbukti membuat manajemen operasi salvage, yakni upaya penyelamatan kapal beserta muatannya dari kecelakaan laut, menjadi jauh lebih lincah.
Rencana pengkajian ulang struktur organisasi ini sejalan dengan komitmen Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali yang menekankan pentingnya pembaharuan doktrin dan sistem organisasi agar selaras dengan kemajuan teknologi global serta tantangan tugas yang semakin kompleks.
Ke depannya, hasil analisis dari kunjungan ini akan digodok untuk menyempurnakan organisasi Koppeba. Dengan menyatukan penyelam dan kapal pendukung dalam satu rantai komando, TNI AL berharap respon terhadap insiden bawah laut di perairan Indonesia dapat terlaksana lebih cepat, tepat, dan profesional. ( * )
0 komentar:
Posting Komentar