
Medan /// Swara Jiwa //// Kegiatan halal bi halal Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Sumatera Utara yang digelar Minggu (19/4) diwarnai kericuhan.
Insiden tersebut dipicu dugaan pelanggaran kesepakatan internal terkait agenda acara dan kehadiran sejumlah pihak yang dianggap tidak sesuai komitmen awal.
Ketua PW KAMMI Sumatera Utara (Sumut), Irham Sadani Rambe, mengungkapkan bahwa sebelum kegiatan berlangsung telah ada pertemuan antara dirinya dengan Ketua KA KAMMI Sumut, Abdul Rahim Siregar, pada Jumat (17/4), di Jalan Abdullah Lubis.
Pertemuan itu membahas klarifikasi terkait beredarnya flyer yang mencantumkan agenda pelantikan yang menyeret nama PW KAMMI Sumut.
Dalam pertemuan tersebut, Abdul Rahim Siregar disebut telah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen tidak akan menyelipkan agenda pelantikan yang mengatasnamakan PW KAMMI Sumut dalam kegiatan Halal Bihalal. Ia juga berjanji menjaga persatuan organisasi dan menghindari potensi perpecahan.
Sejumlah kesepakatan kemudian dicapai, di antaranya kader KAMMI diperbolehkan hadir sebagai peserta, tidak mengundang pihak tertentu untuk mencegah kericuhan, serta tidak menghadirkan pengurus pusat dalam acara tersebut.
Namun, menurut Irham, kesepakatan itu tidak dijalankan saat hari pelaksanaan. Kehadiran pihak-pihak yang disebut sebagai ‘penumpang gelap’ yang mengatasnamakan PW KAMMI Sumut dan pengurus pusat memicu protes dari kader di lokasi acara.
Kericuhan bermula ketika seorang kader PW KAMMI Sumut, Irwandi, mempertanyakan kehadiran sejumlah nama dalam forum, termasuk Nazmul Watan dan Hasan Basri. Karena tidak mendapat penjelasan, ia meminta salah satu pihak meninggalkan ruangan.
Situasi kemudian memanas dan berujung aksi dorong-mendorong antar peserta. Ketegangan meningkat ketika sejumlah pihak memanggil aparat Satpol PP untuk melakukan pengamanan.
Dalam situasi tersebut, terjadi dugaan tindakan provokatif yang berujung pada kekerasan fisik terhadap kader KAMMI yang menyampaikan protes. Bentrokan pun tak terhindarkan.
Insiden pemukulan terjadi ketika salah satu panitia, Akhmad Khairul Umam, memukul seorang kader bernama Alwi di bagian pelipis. Aksi tersebut memicu reaksi spontan dari kader lain, Muslimin, yang kemudian membalas hingga menyebabkan Umam terjatuh dan mengalami luka di kepala.
Kericuhan berlanjut dengan dugaan pengeroyokan terhadap Muslimin oleh sejumlah alumni. Ia kemudian diamankan oleh Satpol PP dan dikeluarkan dari lokasi acara. Namun, proses pengamanan itu sendiri disebut diwarnai kekerasan lanjutan.
Irham menyebut, sedikitnya enam kader KAMMI mengalami luka lebam di kepala dan tubuh akibat insiden tersebut. Sementara dari pihak lain, satu orang dilaporkan mengalami luka di kepala akibat terbentur dinding.
Selain itu, muncul pula dugaan tindakan kekerasan lain, termasuk penamparan terhadap kader oleh Ketua KA KAMMI Sumut di ruangan, serta ancaman dari pihak tertentu yang memperkeruh suasana.
Irham menegaskan bahwa kericuhan tersebut bukan kehendak kader KAMMI, melainkan dipicu oleh tidak dijalankannya kesepakatan awal.
Ia juga membantah anggapan bahwa pihaknya melakukan penyerangan, mengingat jumlah kader yang hadir hanya sekitar 10 orang, berbanding jauh dengan jumlah peserta lain di lokasi.
Kami mengutuk segala bentuk kekerasan dalam aktivitas organisasi. Ini bukan yang kami inginkan. Kader kami datang dengan itikad baik, namun justru mendapat tindakan represif,” ujar Irham.
Ia juga menyayangkan momentum Halal Bihalal yang seharusnya menjadi ajang mempererat ukhuwah, justru berubah menjadi konflik terbuka yang berpotensi memecah organisasi.
Di akhir pernyataannya, Irham mengimbau seluruh kader KAMMI di Sumatera Utara untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Saya mengajak seluruh kader untuk menjaga persaudaraan dan tidak terjebak dalam opini maupun fitnah yang dapat merusak organisasi,” tutupnya. (Tim )
0 komentar:
Posting Komentar