728x90 AdSpace

­Top Banner Advertisement
  • Latest News

    2.12.25

    Rasulullah Saw Bersabda tentang tanda Imam Mahdi di akhir zaman

     


    Harian Swara Jiwa /// Rasulullah saw bersabda tentang tanda Imam Mahdi di akhir zaman:

    “Bagi Mahdi kami ada dua tanda yang belum pernah terjadi semenjak kejadian langit dan bumi; bulan akan gerhana pada malam yang pertama dalam bulan Ramadhan dan matahari akan gerhana pada hari pertengahan dari padanya; dan keduanya belum terjadi semenjak kejadian langit dan bumi.” (Sunan Daruqutni)

    Pada tahun 1891 Hazrat Mirza Ghulam Ahmad berdasarkan wahyu ilahi menyatakan kepada dunia, bahwa dialah Imam Mahdi yang dijanjikan itu. Tetapi para ulama waktu itu tidak membenarkan dakwah beliau, salah satu alasannya adalah tanda-tanda yang dinyatakan oleh Rasulullah saw mengenai kedatangan Imam Mahdi, yakni gerhana bulan dan matahari pada tanggal tertentu dalam bulan Ramadhan belum terjadi.

    Pada tahun 1894 Allah taala memperlihatkan Tanda itu, persis seperti yang digambarkan dalam hadits, yaitu dua gerhana di bulan Ramadhan di awal dan pertengahannya, dan tidak hanya terjadi sekali, tetapi dua kali yaitu tahun 1895 yang terlihat di belahan bumi Barat tepat pada tanggal yang ditetapkan.

    Berikut kami hadirkan tulisan komprehensif tentang Tanda Imam Mahdi ini.

    Tanda Imam Mahdi Yang Dijanjikan,

    Gerhana Bulan dan Matahari

    disarikan dari karya tulisan Saleh Muhammad Alladin

    (Professor Astronomi, Universitas Osmania, Hyderabad, India)

    Kedatangan sang Pembaharu Yang Dijanjikan pada Akhir Zaman telah dinubuatkan dalam kitab suci berbagai agama. Saya bermaksud untuk membahas tentang nubuatan agung oleh panutan serta pemimpin kita, Rasulullah saw, yang membantu para pencari kebenaran dalam mengenalinya. Menurut nubuatan tersebut gerhana bulan dan matahari pada tanggal tertentu dalam bulan Ramadhan akan menjadi Tanda bagi kedatangannya.”

    Hadhrat Ali bin Umar Al-Baghdadi Ad-Daruquthni, seorang perawi hadist terkemuka, yang hidup pada tahun 918 hingga 995 Masehi (306 – 385 Hijriah), telah mencatatkan hadis berikut yang diriwayatkan oleh Hadhrat Imam Baqir Muhammad bin Ali, putra dari Hadhrat Imam Zainal Abidin ra:

    اِنَّ لِمَهْدِينَا آيَتَيْنِ لَمْ تَكُوْنَا مُنْذُ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ تَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لاَوًّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَتَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ وَلَمْ تَكُوْنَ مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ

    “Sesungguhnya bagi Mahdi kami, akan ada dua Tanda yang belum pernah terjadi sejak penciptaan langit dan bumi, yakni, munculnya gerhana bulan pada malam awal Ramadhan (yakni pada malam-malam pertama saat gerhana bulan dapat terjadi) serta gerhana matahari di waktu pertengahannya (yakni pada pertengahan har-hari biasanya


    gerhana matahari terjadi), dan Tanda-tanda ini belum pernah terjadi semenjak Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi.” (Sunan Daruqutni, kitabul ‘idain, bab salat-ul-kusuf-ul khusuuf wa hitahuma)

    Tanda-tanda ini telah disebutkan dalam berbagai catatan Hadis baik dari kalangan Sunni maupun Syiah. Para Ulama Islam terkenal pun telah mengutip Tanda-tanda tersebut dalam buku-buku mereka. Diantara buku-buku yang mengutip nubuatan tersebut adalah sebagai berikut:

    Fatawa Haditsiya oleh Allama Sheikh Ahmad Shahabuddin Ibn Hijrul Haismi.

    Ikmal-ud-din

    Biharul Anwar

    Hijajul Kiromah oleh Nawab Siddeeq Hassan Khan

    Maktubaat-e-Imam Rabbani Mujaddid Alf-e-Sani

    Qiyamat Namah Farsi oleh Hadhrat Shah Rafeeuddin Muhaddis dari Delhi

    Aqaidul Islam oleh Maulana Abdul Haq Muhaddis dari Delhi

    Iqtirabus Sa’ah oleh Nawab Sideeq Hassan Khan

    Ahwalul Akhirah oleh Hafiz Muhammad dari Lakhoke. dll.

    Hadis-hadis tersebut dikuatkan oleh fakta bahwa Al-Qur’an juga menyebutkan mengenai gerhana-gerhana yang menjadi tanda datangnya Hari Kebangkitan. Al-Qur’an menyatakan bahwa:

    وَخَسَفَ القَمَرُ –  وَجُمِعَ الشَّمسُ وَالقَمَرُ

    “Dan terjadi gerhana bulan, dan dikumpulkan matahari dan bulan. (Al-Qiyamah 75:8-9)

    Sumber nubuatan tersebut berasal dari Al-Qur’an dan semakin diperjelas melalui keterangan Hadis sehingga memberikan rincian yang berharga.

    Dalam kitab Perjanjian Baru, Nabi Isa as, menjelaskan tentang tanda-tanda kedatangan beliau yang kedua kalinya:

    “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” (Matius 24:29)

    Mahatma Surdasji telah menyebutkan nubuatan bahwa saat Kalki Avatar muncul, bulan serta matahari akan mengalami gerhana. Beliau  menuliskan:

    “Baik bulan dan matahari kedua-duanya akan mengalami gerhana, dan akan banyak kekerasan dan kematian.”

    Dalam kitab suci umat Sikh, Sri Guru Garanth Sahib, tertulis:

    “Saat Maharaj akan datang sebagai Nahkalank, matahari dan bulan akan menjadi

    penolongnya.”

    Singkatnya, kitab-kitab agama lain juga menyebutkan tentang tanda-tanda matahari dan bulan. Dalam Hadist riwayat Daruquthni yang telah disebutkan sebelumnya, detil yang lebih jelas telah dipaparkan dan kita akan mendiskusikannya lebih lanjut.

    Gerhana Bulan dan Matahari dalam Pandangan Hukum Alam

    Gerhana bulan dan matahari merupakan fenomena yang terjadi sesuai dengan hukum alam. Al-Qur’an telah berulangkali mengarahkan pandangan kita kepada fenomena alam. Pembahasan dari sisi astronomi sangat tepat dan relevan. Hal tersebut membantu dalam memahami Hadis tersebut. Bumi, matahari, dan bulan membentuk sebuah sistem yang terbagi atas tiga bagian. Al-Qur’an telah membahas sistem ini dengan sangat indah dalam ayat berikut:

    سُبحانَ الَّذي خَلَقَ الأَزواجَ كُلَّها مِمّا تُنبِتُ الأَرضُ وَمِن أَنفُسِهِم وَمِمّا لا يَعلَمونَ * وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيلُ نَسلَخُ مِنهُ النَّهارَ فَإِذا هُم مُظلِمونَ * وَالشَّمسُ تَجري لِمُستَقَرٍّ لَها ۚ ذٰلِكَ تَقديرُ العَزيزِ العَليمِ * وَالقَمَرَ قَدَّرناهُ مَنازِلَ حَتّىٰ عادَ كَالعُرجونِ القَديمِ * لَا الشَّمسُ يَنبَغي لَها أَن تُدرِكَ القَمَرَ وَلَا اللَّيلُ سابِقُ النَّهارِ ۚ وَكُلٌّ في فَلَكٍ يَسبَحونَ

    Maha Suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu berjodoh-jodoh  dari apa yang di tumbuhkan oleh bumi, maupun dari diri mereka sendiri, dan juga dari apa yang mereka tidak mengetahui. Dan suatu Tanda bagi mereka adalah malam, darinya siang hari Kami tanggalkan, dan tiba-tiba mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari terus beredar ke arah tujuan yang telah ditetapkan baginya. Itulah takdir Tuhan  Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan bagi bulan telah Kami tetapkan tingkat-tingkatnya, sehingga ia kembali lagi seperti bentuk tandan kurma  yang tua. Matahari tidak kuasa menyusul bulan, dan tidak pula malam mendahului siang. Dan semua itu terus beredar pada tempat peredarannya. (Ya Sin 36: 36-40)

    Disini ada lima ayat yang telah dikutip. Dalam ayat pertama telah dijelaskan sebuah fakta mendasar bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan segala sesuatu berpasangan. Dalam ayat kedua dijelaskan mengenai adanya malam dan siang, yang terjadi akibat pergerakan bumi. Pada ayat ketiga dijelaskan mengenai pergerakan matahari, dan ayat keempat menjelaskan tentang pergerakan bulan. Dan ayat yang kelima, matahari, bulan, siang dan malam, semuanya disebutkan bersama-sama, dan dengan lebih lanjut dijelaskan bahwa pergerakan benda langit tersebut juga memiliki batasan-batasan.

    Kita belajar dari sains bahwa bumi dan bulan sama-sama berputar dan menyelesaikan revolusi dalam satu bulan, mereka membentuk sebuah pasangan. Bumi dan bulan bersama-sama bergerak mengelilingi matahari dan menyelesaikan satu revolusi dalam satu tahun. Jadi sistem matahari dan bumi-bulan membentuk satu pasangan lain. Di dalam sistem tata surya banyak sekali bentuk berpasang-pasangan. Matahari dengan semua planet dan satelitnya mengelilingi pusat galaksi dengan satu revolusi sekitar dua ratus juta tahun. Seperti matahari kita, ada miliaran bintang di galaksi kita yang mengitari pusat galaksi dengan periode yang berbeda-beda. Maha Suci Allah yang

    menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.

    Saat bulan berputar mengelilingi bumi, dan berada diantara matahari dan bumi sehingga menghalangi cahaya matahari mencapai bumi, kita mendapati gerhana matahari; Dan ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi perlahan menutupi seluruh permukaan bulan, kita menyaksikan gerhana bulan. Dalam terminologi astronomi, gerhana matahari terjadi di saat fase bulan baru (new moon) dan gerhana bulan terjadi di fase bulan penuh (full moon). Pada fase bulan baru, garis bujur matahari dan bulan adalah sama, ini disebut bulan berkonjungsi. Gerhana tidak terjadi di setiap bulan baru dan bulan penuh, karena untuk terjadinya gerhana posisi matahari, bumi dan bulan harus dalam garis sejajar. Jika orbit bumi mengelilingi matahari dan orbit bulan mengelilingi bumi dalam bidang yang sama, maka akan ada dua kali konjungsi setiap bulannya, sehingga akan terjadi satu gerhana bulan dan satu gerhana matahari setiap bulannya.  Faktanya kedua bidang orbit itu satu sama lain cenderung memiliki sudut sekitar lima derajat, sehingga jumlah maksimal gerhana yang dapat terjadi dalam setiap tahunnya tidak melebihi tujuh kali (sekitar empat atau lima kali gerhana matahari, dan tiga atau dua kali gerhana bulan). Jumlah minimal gerhana yang dapat terjadi dalam setahun adalah dua kali, dan keduanya adalah gerhana matahari. Untuk penjelasan lebih lanjut lihat buku-buku tentang Spherical Astronomy.

    Pergerakan bulan cukup rumit. Untuk perkiraan pertama, bulan mengelilingi bumi dalam orbit yang berbentuk elips, sehingga jaraknya dengan bumi dan kecepatan edarnya menjadi berubah-ubah dalam batas-batas tertentu. Saat bulan berada dalam posisi terdekatnya ia disebut perigee (bulan super). Kecepatan bulan terhadap bumi paling tinggi saat berada di posisi perigee. Karena daya tarik gravitasi matahari, posisi perigee tersebut pun berubah di ruang angkasa. Jadi terkadang bulan bergerak lebih cepat di awal bulan, dan terkadang bergerak lebih cepat di bagian akhir. Demikian juga jarak dan kecepatan pasangan bumi-bulan terhadap matahari juga berubah dalam batas-batas tertentu sesuai dengan hukum gravitasi. Seperti dijelaskan di dalam Al-Qur’an:


    Terkait:   Abad ke-14, Kedatangan Imam Mahdi


    الشَّمسُ وَالقَمَرُ بِحُسبانٍ

    “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (Al-Rahman 55:5)

    Perubahan jarak dan kecepatan oleh masing-masing benda langit tersebut memiliki pengaruh pada tanggal dimana gerhana biasa terjadi.

    Para astronom menggunakan waktu terjadinya konjungsi sebagai awal dari dimulainya bulan dalam kalender. Pada saat tersebut bulan tidak terlihat sama sekali. Bulan di dalam Kalender Islam (Hijriah) dimulai dengan awal terlihatnya bulan sabit, yakni: saat fase bulan mulai cukup tampak jelas untuk dapat terlihat. Salah satu buku yang sangat bagus dalam menjelaskan penampakan bulan sabit juga telah ditulis oleh Dr.

    menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.

    Saat bulan berputar mengelilingi bumi, dan berada diantara matahari dan bumi sehingga menghalangi cahaya matahari mencapai bumi, kita mendapati gerhana matahari; Dan ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi perlahan menutupi seluruh permukaan bulan, kita menyaksikan gerhana bulan. Dalam terminologi astronomi, gerhana matahari terjadi di saat fase bulan baru (new moon) dan gerhana bulan terjadi di fase bulan penuh (full moon). Pada fase bulan baru, garis bujur matahari dan bulan adalah sama, ini disebut bulan berkonjungsi. 


    Gerhana tidak terjadi di setiap bulan baru dan bulan penuh, karena untuk terjadinya gerhana posisi matahari, bumi dan bulan harus dalam garis sejajar. Jika orbit bumi mengelilingi matahari dan orbit bulan mengelilingi bumi dalam bidang yang sama, maka akan ada dua kali konjungsi setiap bulannya, sehingga akan terjadi satu gerhana bulan dan satu gerhana matahari setiap bulannya.  Faktanya kedua bidang orbit itu satu sama lain cenderung memiliki sudut sekitar lima derajat, sehingga jumlah maksimal gerhana yang dapat terjadi dalam setiap tahunnya tidak melebihi tujuh kali (sekitar empat atau lima kali gerhana matahari, dan tiga atau dua kali gerhana bulan). Jumlah minimal gerhana yang dapat terjadi dalam setahun adalah dua kali, dan keduanya adalah gerhana matahari. Untuk penjelasan lebih lanjut lihat buku-buku tentang Spherical Astronomy.

    Pergerakan bulan cukup rumit. Untuk perkiraan pertama, bulan mengelilingi bumi dalam orbit yang berbentuk elips, sehingga jaraknya dengan bumi dan kecepatan edarnya menjadi berubah-ubah dalam batas-batas tertentu. Saat bulan berada dalam posisi terdekatnya ia disebut perigee (bulan super). Kecepatan bulan terhadap bumi paling tinggi saat berada di posisi perigee. Karena daya tarik gravitasi matahari, posisi perigee tersebut pun berubah di ruang angkasa. Jadi terkadang bulan bergerak lebih cepat di awal bulan, dan terkadang bergerak lebih cepat di bagian akhir. Demikian juga jarak dan kecepatan pasangan bumi-bulan terhadap matahari juga berubah dalam batas-batas tertentu sesuai dengan hukum gravitasi. Seperti dijelaskan di dalam Al-Qur’an:


    Terkait:   Abad ke-14, Kedatangan Imam Mahdi


    الشَّمسُ وَالقَمَرُ بِحُسبانٍ

    “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (Al-Rahman 55:5)

    Perubahan jarak dan kecepatan oleh masing-masing benda langit tersebut memiliki pengaruh pada tanggal dimana gerhana biasa terjadi.

    Para astronom menggunakan waktu terjadinya konjungsi sebagai awal dari dimulainya bulan dalam kalender. Pada saat tersebut bulan tidak terlihat sama sekali. Bulan di dalam Kalender Islam (Hijriah) dimulai dengan awal terlihatnya bulan sabit, yakni: saat fase bulan mulai cukup tampak jelas untuk dapat terlihat. Salah satu buku yang sangat bagus dalam menjelaskan penampakan bulan sabit juga telah ditulis oleh Dr. Muhammad Ilyas. (A modern Guide to astronomical Calculations of Islamic Calendar, Times & Qibla diterbitkan oleh Berita Publishing Kuala Lumpur 1984)

    Jika menggunakan Kalender Hijriah, maka tanggal – tanggal dimana gerhana bulan dapat muncul adalah pada tanggal 13, 14, dan 15; dan tanggal dimana gerhana matahari dapat muncul adalah tanggal 27, 28, dan 29. Menurut nubuatan, gerhana bulan akan muncul pada malam – malam permulaan Ramadhan dan gerhana matahari terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan. Dan peristiwa ini telah teradi pada tanggal 13 Ramadhan untuk gerhana bulan dan tanggal 28 Ramadhan untuk gerhana matahari.

    Di dalam Hadist, kata Qamar digunakan untuk bulan dan bukan Hilal. Bulan sabit pada hari pertama, kedua, dan ketiga disebut Hilal sedangkan Qamar adalah bulan di malam keempat dan dan seterusnya. (Aqrabul Mawarid vol. 2). Sehingga interpretasi untuk malam – malam permulaan ramadhan terjadi pada tanggal 13 Ramadhan dan bukannya hari pertama di bulan Ramadhan, hal tersebut didukung pula dengan kata Qamar yang digunakan dalam Hadist, sehingga tidak meninggalkan ambiguitas.( Jun )

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Rasulullah Saw Bersabda tentang tanda Imam Mahdi di akhir zaman Rating: 5 Reviewed By: HarianSwaraJiwa.Com
    Scroll to Top