DAIRI /// Harian Swara Jiwa // Semangat anak muda membangun kampung halaman terpancar dari langkah Victorius Willy Purba, SH. Di usia 25 tahun, ia sukses meniti karier sebagai lawyer di Jakarta, sekaligus menunjukkan kepeduliannya terhadap daerah asal dengan meresmikan Kopi Tabo di Jalan Pandu No. 5, Sidikalang, Minggu (22/3/2026).
Prosesi grand opening berlangsung khidmat dan sarat makna budaya. Acara diawali dengan doa sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus harapan atas kelancaran usaha. Momen semakin sakral ketika Willy diulosi oleh orang tua dan tulang (paman dari garis ibu), yang dalam tradisi Batak diyakini memiliki kekuatan doa dan restu yang sangat bermakna.
Sebagai anak siapudan atau anak bungsu dari lima bersaudara, ulos yang disematkan menjadi simbol kasih sayang, restu, sekaligus harapan agar langkah usaha yang dijalani membawa berkat dan keberhasilan.
Grand opening ini menjadi momentum inspiratif bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Willy mengungkapkan, keputusan berinvestasi di kampung halaman berangkat dari kesadaran bahwa kesuksesan pribadi harus memiliki dampak sosial. Meski berkarier di Jakarta, ia menegaskan bahwa identitasnya tetap berakar di Dairi.
“Ini bukan sekadar usaha, tetapi bentuk keberpihakan terhadap asal-usul. Saya melihat potensi kopi Dairi sangat besar, namun belum sepenuhnya dikelola secara profesional. Kopi Tabo hadir untuk menjembatani pengalaman saya dengan potensi lokal,” ujarnya.
Sebagai seorang profesional hukum, Willy juga memandang bahwa pembangunan ekonomi lokal membutuhkan kepastian hukum yang kuat. Menurutnya, hukum harus mampu menciptakan ekosistem usaha yang sehat, melindungi petani, serta mendorong kemitraan yang adil dan transparan.
“Hukum bukan sekadar aturan, tetapi fondasi kepercayaan dalam dunia usaha,” tegasnya.
Kopi Tabo sendiri dibangun dengan filosofi keberlanjutan dan keterhubungan. Usaha ini diharapkan tidak hanya memberi nilai ekonomi di hilir, tetapi juga berdampak langsung bagi petani kopi sebagai bagian penting dari rantai produksi.
Menariknya, Willy juga menegaskan bahwa keberlangsungan usaha ini tidak bergantung pada dirinya seorang. Ia menyebut telah membangun tim yang solid dan profesional untuk mengelola Kopi Tabo di Sidikalang.
Dengan demikian, meskipun ia tetap menjalankan profesinya sebagai lawyer di Jakarta, ia percaya bahwa Kopi Tabo akan terus tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan di tangan tim yang kuat.
“Saya percaya pada tim. Usaha ini dibangun bersama, dan akan berkembang karena kerja kolektif. Justru dengan sistem dan tim yang baik, Kopi Tabo bisa terus maju meskipun saya tidak selalu berada di tempat,” ungkapnya.
Bagi generasi muda, kehadiran Kopi Tabo menjadi simbol bahwa sektor lokal dapat dikembangkan secara modern dan bernilai tinggi.
“Anak muda harus melihat bahwa kampung halaman adalah peluang, bukan keterbatasan,” katanya.
Ia pun mengajak generasi muda Dairi yang merantau untuk tetap menjaga ikatan dengan daerah asal, serta berkontribusi melalui berbagai cara—baik ide, jaringan, maupun investasi.
“Jangan hanya sukses untuk diri sendiri, tetapi juga harus memberi arti bagi banyak orang,” pesannya.
Menurut Willy, makna pulang kampung bukan sekadar kembali secara fisik, melainkan membawa perubahan dan harapan baru.
“Pulang adalah tentang tanggung jawab. Bagaimana kita mengubah potensi menjadi kekuatan nyata bagi daerah,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Willy juga mengajak masyarakat untuk turut merasakan suasana dan cita rasa yang dihadirkan Kopi Tabo.
“Silakan datang dan nikmati kopi terbaik khas Dairi di Kopi Tabo Sidikalang. Tempat ini kami hadirkan sebagai ruang yang nyaman, strategis, dan terbuka untuk semua kalangan—baik anak muda maupun orang tua, untuk sekadar ngopi, berdiskusi, maupun berkumpul bersama,” ajaknya Untuk menikmati kopi ala barista dan minuman non alkohol lainya dengan berbagai parian rasa.
Kisah Victorius Willy Purba menjadi contoh nyata bahwa generasi muda mampu menjadi motor penggerak pembangunan. Dari Sidikalang, semangat itu kini tumbuh—bahwa masa depan Dairi juga ada di tangan anak-anak mudanya.(clara)
0 komentar:
Posting Komentar