
Banjir yang dipicu hujan deras merata di wilayah Tapteng tersebut membawa material kayu berukuran besar dari hulu sungai hingga menutup badan jalan. Akibatnya, kendaraan dari arah Sibolga maupun Padang Sidimpuan tidak dapat melintas, sehingga terjadi kemacetan panjang.
Dalam penanganan darurat itu, Bupati didampingi, Wakil Bupati Mahmud Efendi, Dandim 0211/TT Letkol Inf Bayu Hanuranto Wicaksono, Kadis PU Jusmar Efendi Simamora, anggota DPRD Tapteng Wira Arisandi, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), Camat Badiri Ahmad Saufi Pasaribu, serta tim Basarnas Sibolga. Masinton langsung menginstruksikan percepatan pembersihan material kayu menggunakan alat berat agar akses jalan kembali normal.
“Kita sudah mengerahkan alat berat untuk membersihkan gelondongan kayu. Sekitar pukul 00.30 WIB akses jalan sudah bisa dilalui kendaraan,” ujar Masinton.
Ia menjelaskan, kayu-kayu besar tersebut berasal dari luapan sungai yang membawa material dari hulu. Kondisi sedimentasi sungai yang tinggi juga memperparah banjir karena permukaan sungai hampir sejajar dengan pemukiman warga.
“Sedimen sungai perlu segera dinormalisasi. Kalau hujan sedikit saja langsung banjir. Karena itu, kita sudah berkoordinasi dengan Kementerian PU melalui balai sungai agar ini menjadi prioritas. Alat sudah dikirim untuk proses pengerukan dan normalisasi,” tegasnya.
Masinton menyebutkan, curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Tapteng. Pemerintah daerah telah mengimbau masyarakat di daerah rawan untuk segera melakukan evakuasi ke tempat aman.
Menurutnya, penanganan bencana dilakukan secara terpadu dengan melibatkan TNI–Polri, Basarnas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta Kementerian Pekerjaan Umum. Selain evakuasi warga, tim juga fokus membuka akses jalan utama.
“Ini bentuk kerja sama semua pihak, mulai dari evakuasi hingga pembersihan, termasuk di jalan lintas Sibolga–Padang Sidempuan,” katanya.
Selain di Lopian, dampak banjir juga terjadi di sejumlah titik, di antaranya akses jalan Lubuk Ampolu, longsor di Sitahuis, serta banjir di Sungai Aek Sirahar Barus dan Hutanabolon.
Berdasarkan laporan, kondisi air di sebagian wilayah sudah mulai surut, namun pemerintah tetap mengingatkan masyarakat agar siaga.
“Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa. Kita bersyukur masyarakat sudah mulai memahami pentingnya evakuasi saat hujan deras,” ungkapnya.
Masinton berharap cuaca segera membaik agar aktivitas masyarakat kembali normal. Ia juga menegaskan pemerintah daerah telah meminta pemerintah pusat membangun tanggul permanen guna mencegah banjir berulang.
“Kita dorong pembangunan tanggul permanen. Pendekatan rekonstruksi langsung lebih efektif dibanding tanggul sementara yang mudah rusak.( Tim )
0 komentar:
Posting Komentar