
LARANTUKA /// Harian Swara Jiwa – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Kota Reinha Larantuka saat Mgr. Hans Monteiro resmi ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka yang baru. Dalam homilinya, Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, menekankan pentingnya kesatuan di tengah keberagaman dan tantangan sosial-ekonomi yang dihadapi umat di wilayah Flores Timur dan sekitarnya.
Mgr. Paul Budi Kleden menyoroti moto penggembalaan Mgr. Hans Monteiro, yaitu "Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes" (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan). Menurutnya, tiga kata "Satu" dalam bahasa Latin tersebut menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan—tubuh, roh, dan pengharapan—dan semuanya bermuara pada satu tujuan utama: Unus Christus (Satu Kristus).
"Moto ini menyadarkan kita bahwa apa pun perbedaan di antara kita, kita hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu," ujar Mgr. Paul Budi Kleden di hadapan ribuan umat dan undangan.
Meruntuhkan Tembok Pemisah
Dalam khotbahnya, Mgr. Paul mengingatkan bahwa tugas utama seorang uskup adalah merawat kesatuan di tengah jurang perbedaan. Ia menyinggung ketimpangan antara mereka yang hidup berlimpah dengan mereka yang berada dalam kemiskinan ekstrem, serta tembok pemisah akibat perbedaan suku dan pilihan politik.
Ia menekankan tiga dimensi kesatuan berdasarkan moto Uskup baru:
- Unum Corpus (Satu Tubuh): Gereja adalah satu tubuh dengan banyak anggota. Pemimpin harus mampu mendengarkan dan merangkul mereka yang terpinggirkan atau menjauh.
- Unus Spiritus (Satu Roh): Roh Kudus yang dicurahkan harus membebaskan umat dari penjara "ingat diri". Mgr. Paul menyerukan keberanian Gereja untuk membebaskan petani dan nelayan dari tengkulak, melawan praktik perdagangan orang, serta menghentikan eksploitasi alam yang merusak ekosistem.
- Una Spes (Satu Harapan): Menjaga api harapan di tengah dunia yang terancam keputusasaan.
Makna "Bale Nagi"
Menariknya, Mgr. Paul mengaitkan penugasan Mgr. Hans Monteiro dengan istilah lokal "Bale Nagi" (Pulang Kampung). Ia menegaskan bahwa kembalinya Mgr. Hans ke tanah kelahirannya bukan sekadar rindu akan "sayur daun marungge dan jagung titi", atau karena tuntutan "anak tanah".
"No Bale Nagi (Saudara pulang kampung) supaya bersama kami semua melangkah dalam rangkulan kasih Tuan Ma, mewartakan Tuan Ana, Kristus yang tersalib, wafat, dan bangkit untuk kita," tegas Mgr. Paul.
Tahbisan ini menandai berakhirnya masa kepemimpinan Mgr. Frans Kopong Kung yang telah melayani sejak tahun 2004. Mgr. Paul menutup homilinya dengan pesan bahwa Kristus adalah satu-satunya gembala yang akan mengantar semua umat untuk benar-benar "Bale Nagi" atau pulang ke rumah Bapa di surga. ***
---
Berikut Homili Uskup Mgr. Paul Budi Kleden, SVD dalam Tahbisan Uskup Mgr. Hans Monteiro di Larantuka, 11 Februari 2026
UNUM CORPUS, UNUS SPIRITUS, UNA SPES
bermuara pada UNUS CHRISTUS
Tidak ada keraguan lagi akan apa yang kita lakukan sekarang. Penahbisan Uskup Romo Hans Monteiro terjadi karena telah ada keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik, yang tadi dibacakan oleh Monsinyur Michael, pelaksana tugas Kedutaan Vatikan untuk Indonesia.
Saudara-saudari terkasih,
era kepemimpinan yang panjang berakhir hari ini di Larantuka. Pelayanan kegembalaan Bapak Frans Kopong Kung, yang sejak tahun 2004 menjadi Uskup Larantuka dan meneruskan estafet kepemimpinan dari Uskup Darius Nggawa, SVD, kini sampai pada penghujungnya.
Dua puluh dua tahun yang lalu, saat Uskup Frans memulai pelayanannya sebagai uskup diosesan setelah dua tahun menjadi uskup koajutor, yang berperan sebagai komentator dalam perayaan itu adalah seorang romo yang waktu itu masih muda, tetapi tampil berwibawa dan meyakinkan: Romo Hans Monteiro.
Kita tentu tidak tahu apa yang akan terjadi dengan romo muda kita hari ini, yang juga masih muda dan tampil meyakinkan.
Dari kedalaman rohani dan kekayaan pengalaman pastoralnya, Uskup Frans memilih dua moto: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” dan “Semoga mereka bersatu supaya dunia percaya.” Jarang ada uskup yang memilih dua moto—dan itu menunjukkan keistimewaan beliau.
Mungkin karena harus memimpin umat Katolik di dua wilayah kabupaten. Atau karena beliau sadar bahwa untuk menjadi gembala di wilayah yang kerap mengalami bencana—banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi—serta memimpin umat yang tinggal terpencar di pulau-pulau yang dibatasi gunung dan lembah, dibutuhkan hati yang terbuka pada kehendak Allah seperti Bunda Maria, serta kesungguhan menghayati doa Yesus untuk merawat kesatuan.
Uskup baru kita, Uskup Hans, merasa cukup dengan satu moto. Tetapi satu moto ini tidak main-main. Dalam satu moto ini, kata “satu” disebut tiga kali dalam bahasa Latin: unum, unus, una.
Bagi yang pernah belajar bahasa Latin, di sini kata “satu” digunakan dalam tiga genus: neutrum, feminin, dan maskulin. Dengan moto ini, seluruh diri manusia disapa—tubuh, roh, dan pengharapan. Segala sudut disentuh. Semua kelompok dirangkul. Apa pun perbedaan di antara kita, kita hidup di bawah langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu.
Namun moto ini sekaligus membuka mata kita akan jurang yang terbentang di antara kita: jurang antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrem; antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpinggirkan; antara mereka yang berbeda suku dan pilihan politik; kita sering membangun tembok pemisah dan hidup dalam kecurigaan laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain.
Salah satu moto Uskup Frans juga berbicara tentang kesatuan: “Semoga mereka semua bersatu.” Mensyukuri anugerah kesatuan yang diberikan Tuhan di tengah berbagai perbedaan, merawat kesatuan itu dengan kasih kegembalaan, memperjuangkannya dengan sikap dan pesan kenabian, membentuk nurani dan memperluas wawasan agar mampu merangkul dengan kebijaksanaan seorang guru—itulah tugas seorang uskup, kewajiban para imam, panggilan setiap orang beriman, dan tanggung jawab setiap manusia.
Dengan motonya yang terinspirasi dari Surat Santo Paulus kepada umat di Efesus, Uskup Hans mengingatkan kita akan tiga dimensi kesatuan yang sangat penting.
Pertama, Unum Corpus — satu tubuh.
Kita adalah satu tubuh. Seperti dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, tubuh memiliki banyak anggota. Satu Gereja dengan satu Kepala, yaitu Kristus, yang mempersatukan anggota-anggota yang berbeda dalam satu kesatuan, masing-masing dengan peran khasnya.
Perbedaan bukan alasan untuk memandang diri lebih penting dan lebih berkuasa daripada yang lain atau lebih rendah dan tidak berarti. Kesatuan dijamin oleh pemimpin yang mau mendengarkan dan memberi ruang bagi semua untuk berpartisipasi, tetapi sekaligus menunjukkan arah dan berani mengambil keputusan. Karena itu, ketaatan dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan.
Membawa semua orang ke dalam kesatuan berarti mencari dan merangkul semua, terutama mereka yang karena alasan tertentu menjauh atau dijauhi. Merawat kesatuan berarti mencegah satu kelompok menjadi terlalu dominan sambil menutup ruang bagi yang lain. Selalu memilih melihat kenyataan dari perspektif korban.
Mempererat persatuan menuntut usaha sungguh untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan dan makna hidup. Memberi perhatian istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa yang menderita karena kekerasan dan kemiskinan—kemiskinan harta, relasi, empati, perhatian, dan waktu.
Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan untuk menangkap desahan tanpa suara dari mereka yang berada di jurang keputusasaan, terutama anak-anak. Memelihara kesatuan memerlukan kesediaan dan keberanian mengatasi ketersinggungan pribadi serta menumbuhkan kerelaan untuk saling mengampuni.
Dalam Injil hari ini, Yesus yang bangkit mengembusi para murid-Nya dengan Roh Kudus dan memberi mereka kuasa untuk mengampuni.
Kedua, Unus Spiritus — satu Roh, satu semangat.
Tanpa semangat yang sama, tubuh yang satu menjadi tidak berdaya. Nabi Yesaya berkata: “Roh Tuhan ada padaku.” Roh itu dicurahkan kepada kita semua, anggota Gereja. Roh itu diberikan kepada Uskup, kepada setiap orang yang ditahbiskan, agar dibebaskan dari penjara ego dan kecemasan akan diri sendiri, sehingga berani mewartakan kabar pembebasan.
Untuk melepaskan para petani dan nelayan dari genggaman tengkulak yang kian agresif;
membebaskan keluarga-keluarga dari cengkeraman lembaga keuangan yang tidak saja memiskinkan tetapi juga merendahkan martabat, seperti pinjaman online dan koperasi harian atau mingguan;
melawan praktik perdagangan orang;
serta menghentikan pembabatan hutan, pencemaran air, dan eksploitasi alam yang menghancurkan ekosistem dan menggoyahkan kesatuan masyarakat.
Semangat Roh seperti ini perlu dihidupkan supaya Gereja tidak sekadar menjadi struktur yang rapi, tetapi sungguh menjadi sakramen keselamatan—tanda yang berdaya dan bermanfaat, terutama bagi mereka yang diperlakukan tidak adil.
Pandangan Kristiani tidak pernah memisahkan tubuh dari roh. Dalam setiap perayaan Ekaristi, roti dan anggur yang dipersembahkan—untuk diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus—adalah hasil bumi dan usaha manusia. Karena itu, perhatian pada kelestarian bumi dan komitmen memperjuangkan hak-hak dasar manusia adalah bagian utuh dari tanggung jawab iman.
Ketiga, Una Spes — satu harapan.
Bergerak bersama sebagai satu tubuh dalam semangat yang sama di bawah tuntunan Roh Kudus, kita menyalakan api harapan: hidup dalam Kristus yang bangkit.
Kita baru saja menutup Tahun Yubileum dan merayakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia yang kelima, yang mengingatkan pentingnya menjaga dan menyebarkan api harapan di tengah dunia yang kian terancam kehilangan harapan—karena kita lebih sering memilih jalan kekerasan, lebih mudah menyebarkan ancaman dan ketakutan daripada dialog dan penghargaan.
Api harapan itu menyala dalam kerinduan para pengungsi letusan Lewotobi Laki-Laki dan Ile Lewotolok. Tampak dalam kesabaran seorang lamafa dari Lamalera yang menatap samudera luas. Menjiwai ketekunan gadis dari lereng Ile Boleng yang menenun sarung Adonara. Menafasi kesetiaan petani di Otang Solor yang menanam, merawat, dan menanti panen dalam doa. Terdengar dalam lantunan perempuan tua di kaki Ile Mandiri yang merindukan anaknya kembali dari rantau: “Bale nagi, bale nagi…”
Bapak Uskup Hans, no bale nagi—pulang kampung—bukan karena itu mimpimu. Bukan karena kerinduan sentimental akan tanah sendiri. Bukan pula karena umat keuskupan ini hanya bersedia digembalakan oleh seorang anak tanah.
Gereja di wilayah ini sudah matang dan berpengalaman, dijajaki para gembala dari berbagai belahan bumi. Gereja yang sadar bahwa ia adalah Bunda yang melahirkan dan mengutus putra-putrinya untuk bekerja di banyak tempat.
No bale nagi supaya bersama kami semua melangkah dalam rangkulan kasih Tuhan Bapa, mewartakan Tuhan Putra, Kristus yang tersalib, wafat, dan bangkit untuk kita. Sebab Dialah satu-satunya Penyelamat: Unus Christus.
Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes bermuara pada Unus Christus. Kristuslah yang mempersatukan kita dalam satu tubuh, memberi kita Roh-Nya yang mengampuni, dan membuka bagi kita pintu harapan.
Dialah satu-satunya Gembala kita yang mengantar kita semua untuk bale nagi—pulang ke rumah Bapa, kembali ke hadapan Allah yang penuh kasih, sambil membawa dunia kita yang terluka dan merangkul kemanusiaan kita yang tersalib.
Tuhan memberkati.
0 komentar:
Posting Komentar