Jakarta // Swara Jiwa //Nama PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) kembali menghantui ruang publik. Setelah pernah menjadi sorotan dalam polemik stok minyak goreng raksasa di tengah krisis pasokan nasional tahun 2022, perusahaan sawit yang merupakan bagian dari gurita bisnis Grup Salim itu kini kembali muncul dalam penyelidikan dugaan manipulasi nilai ekspor crude palm oil (CPO) yang sedang diusut pemerintah.
Kemunculan nama Salim Ivomas dalam investigasi ini menambah daftar panjang kontroversi yang pernah membayangi perusahaan tersebut. Kali ini, sorotan datang dari dugaan praktik transfer pricing yang disebut berpotensi membuat nilai ekspor tercatat jauh lebih rendah dibanding harga sebenarnya, sehingga berisiko menggerus penerimaan negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menelusuri sekitar 10 perusahaan eksportir CPO yang diduga terlibat dalam permainan harga ekspor melalui skema perusahaan afiliasi di luar negeri. Ketika ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan PT Salim Ivomas Pratama, Purbaya menjawab singkat, “Sepertinya ada.”
Pernyataan itu langsung memantik perhatian karena Salim Ivomas bukan pemain kecil. Perusahaan ini merupakan salah satu pilar bisnis sawit Grup Salim yang menguasai rantai usaha perkebunan hingga produk minyak goreng nasional melalui berbagai merek ternama.
Publik pun sulit melupakan kontroversi yang sempat mengguncang perusahaan tersebut pada Februari 2022. Saat masyarakat di berbagai daerah harus mengantre dan berebut minyak goreng akibat kelangkaan pasokan serta harga yang melonjak, Satgas Pangan Sumatera Utara menemukan sekitar 1,1 juta kilogram minyak goreng tersimpan di gudang PT Salim Ivomas Pratama di Deli Serdang.
Temuan itu memicu kemarahan publik karena terjadi di tengah penderitaan masyarakat yang kesulitan memperoleh minyak goreng sebagai kebutuhan pokok. Di saat rakyat dipaksa membeli dengan harga tinggi dan stok terbatas, jutaan kilogram minyak goreng justru ditemukan tersimpan di gudang perusahaan.
Meski manajemen membantah adanya praktik penimbunan dan menyatakan stok tersebut telah memiliki alokasi distribusi, peristiwa itu tetap menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam krisis minyak goreng nasional yang hingga kini masih melekat di ingatan publik.
Empat tahun berselang, nama perusahaan yang sama kembali muncul dalam perkara berbeda. Kali ini terkait dugaan permainan harga ekspor sawit yang sedang dihitung ulang oleh tim gabungan Kementerian Keuangan, Kejaksaan Agung, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Menurut Purbaya, modus yang sedang ditelusuri diduga dilakukan melalui perusahaan perdagangan di Singapura. Komoditas CPO diekspor dengan nilai yang dilaporkan lebih rendah, sebelum kemudian dijual kembali ke pasar internasional dengan harga jauh lebih tinggi.
“Data ekspor dia lebih rendah daripada yang seharusnya, sekitar 50 persen di bawah,” kata Purbaya.
Jika dugaan tersebut terbukti, praktik itu bukan sekadar persoalan administrasi perdagangan. Potensi kerugian negara dari sisi pajak dan penerimaan ekspor dapat mencapai angka yang sangat besar, mengingat industri sawit merupakan salah satu sumber devisa utama Indonesia.
Karena itu, investigasi yang sedang berjalan dipandang sebagai ujian serius bagi komitmen pemerintah membongkar praktik-praktik yang selama ini diduga merugikan negara di sektor sumber daya alam.
Kini perhatian publik tertuju pada hasil penyelidikan tim gabungan. Apakah kasus ini akan membuka tabir dugaan permainan harga ekspor yang selama bertahun-tahun luput dari pengawasan, atau justru kembali berakhir tanpa konsekuensi hukum yang jelas.
Yang pasti, kemunculan kembali nama Salim Ivomas dalam pusaran investigasi nasional membuat publik bertanya: mengapa perusahaan yang pernah disorot saat krisis minyak goreng kini kembali muncul dalam perkara dugaan tata niaga sawit yang dipersoalkan negara.( SU )
0 komentar:
Posting Komentar